Jisprokota.com – Sebagai warga Kota Probolinggo yang patuh dan budiman, saya sebenarnya bangga luar biasa dengan kota ini. Kita punya ikon mangga dan anggur yang manisnya ngalahin janji manis politisi pas kampanye.
Kota Probolinggo punya Angin Gending yang kekuatannya bisa bikin style rambut berubah dari rapi, jadi kayak habis kesetrum arus PLN. Tapi, ada satu hal yang bikin kebanggaan itu rada nggreges di hati, yakni sampah.
Iya, sampah. Bukan sampah masyarakat lho, tapi sampah beneran. plastik es teh, tusuk cilok, styrofoam seblak, sampai puntung rokok yang jumlahnya mungkin lebih banyak dari jumlah penduduknya.
Romantisasi Alun-Alun yang Gagal
Mari kita bicara soal Alun-Alun Kota Probolinggo. Tempat ini seharusnya jadi center of attention, tempat di mana mas-mas dan mbak-mbak skena lokal pamer outfit, atau keluarga kecil bahagia momong anak di akhir pekan.
Ekspektasinya: Duduk santai di bangku taman, menikmati semilir angin sambil menyesap kopi, memandang patung garuda atau kerlap-kerlip lampu. Romantis, kan?
Realitanya: Baru mau duduk, eh, pantat udah disambut bekas wadah cilok saus kacang. Mau geser dikit, keinjek gelas plastik bekas permen karet. Duh, Gusti.
Ini belum kalau kita bicara soal got di sekitar pasar atau jalanan protokol pas lagi musim hujan. Itu air bukan cuma bawa berkah, tapi bawa “harta karun” warga. Dari bungkus mie instan sampai popok bayi, semua hanyut dengan riang gembira seolah-olah sedang arung jeram.
Angin Gending vs. Kresek Terbang
Kita semua tahu, Probolinggo itu identik dengan angin kencang. Orang luar kota mungkin takut masuk angin, tapi kita warga lokal mah udah kebal. Masalahnya, angin kencang ini sering kali berkolaborasi dengan tumpukan sampah yang berserakan.
Pernah nggak sih kamu lagi motoran santai di Jalan Suroyo atau Jalan Panglima Sudirman, merasa keren kayak aktor film Dilan, eh tiba-tiba… PLAK! Wajahmu ditampar manja sama kantong kresek hitam yang terbang terbawa angin?
Itu bukan azab, Bestie. Itu teguran alam.
Angin Gending itu tugasnya menyejukkan (atau merobohkan baliho), bukan jadi kurir sampah yang mengantar bekas bungkus batagor ke wajah pengendara motor. Tapi ya mau gimana lagi, kalau sampahnya ditaruh sembarangan, angin ya cuma bantu mindahin aja. Mindahin ke tempat yang nggak seharusnya.
Mental “Ah, Ada Petugas Kebersihan”
Kalau ditanya kenapa buang sampah sembarangan, jawaban klise warga +62—termasuk warga Kota Probolinggo—biasanya adalah: “Kan nanti ada petugas yang nyapu. Kalau kita enggak nyampah, mereka nggak ada kerjaan dong.”
Logika macam apa ini?
Itu sama aja kayak bilang, “Aku sengaja nabrakin diri ke tiang listrik biar dokter di RSUD ada kerjaan.” Sungguh absurd.
Padahal, tempat sampah di Kota Probolinggo itu sebenernya ada. Cuma ya gitu, kadang fungsinya beralih. Ada yang tutupnya ilang entah ke mana, ada yang isinya penuh tapi nggak diangkut-angkut sampai mbludak.
Ada juga yang kondisinya masih bagus tapi jaraknya satu kilometer dari tempat kita. Dan kita tahu sendiri, kaki orang Indonesia itu alergi kalau disuruh jalan agak jauh dikit cuma buat buang bungkus permen.
Adipura dan Realita di Lapangan
Probolinggo sering dapet penghargaan Adipura. Plakatnya berjejer, pialanya kinclong, hingga mendapat award rehabilitasi jalan Panglima Sudirman dan Jalan Soekarno Hatta yang nilainya sekitar Rp40 miliar.
Secara administrative, di jalan-jalan protokol pas ada penilaian, kota ini memang terlihat bersih. Tapi coba deh melipir dikit ke jalan-jalan tikus, ke area pesisir, atau ke area pasar pas sore hari setelah pedagang bubar.
Di situ kita bakal melihat “wajah asli” yang bikin kita pengen elus dada (dada sendiri ya, jangan dada orang lain). Penghargaan itu bagus buat motivasi, tapi budaya bersih itu soal habit. Percuma kotanya dapet piala kalau warganya masih punya hobi nyelipin sampah di sela-sela pot bunga trotoar.
Jadi, Gimana?
Artikel ini bukan buat menjelek-jelekkan kota sendiri. Lha wong saya lahir, besar, dan makan mangga di sini. Ini bentuk rasa sayang (cieee).
Ayolah, Rek. Malu sama patung mangga dan anggur raksasa itu. Masak ikon kotanya buah-buahan segar, tapi pemandangannya sampah plastik?
Untuk pemkot, tolonglah manajemen pengangkutan sampahnya dibuat lebih sat-set. Dan buat kita, warga Kota Probolinggo yang ngakunya keren, mulai deh belajar megang sampah sendiri dulu kalau belum nemu tong sampah.
Kantong celana atau jok motor itu bisa jadi tempat sampah sementara, kok. Biar nanti kalau Angin Gending datang lagi, yang terbang itu cuma kenangan mantan, bukan kresek bekas gorengan.




