Lomba Mancing di Probolinggo: Hadiah Jutaan Rupiah dan Siasat Pemkot Menyulap Lahan Nganggur

Wali Kota Probolinggo ikut mancing dalam lomba pancing. Foto: Kominfo Kota Probolinggo

JisPro.com – Bagi sebagian orang, memancing adalah kegiatan paling absurd sedunia. Duduk berjam-jam, digigit nyamuk, kulit gosong kena matahari, demi menunggu ikan, yang jujur saja bisa dibeli di pasar dengan harga dua puluh ribu perak. Tapi, bagi kaum angler (sebutan keren pemancing), ini bukan soal ikan. Ini soal healing, dan tentu saja… jackpot duit jutaan rupiah.

Minggu pagi (28/12), suasana di Kolam Pancing DKPPP Kota Probolinggo, Jawa Timur, tidak seperti biasanya. Sebanyak 120 orang berkumpul dengan wajah serius tapi santai. Mereka bukan sedang demo kenaikan harga beras, tetapi mengikuti Lomba Mancing yang digelar Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) setempat.

Peserta Niat: Dari Bandung sampai Probolinggo Demi “Strike”

Kalau pembaca pikir, pesertanya cuma warga lokal Probolinggo yang gabut di hari Minggu, tentu salah besar. Peserta lomba ini datang dari berbagai penjuru mata angin. Ada yang dari Surabaya, Malang, Jember, Lumajang, bahkan ada yang “sowan” jauh-jauh dari Bandung.

Bayangkan, dari Bandung ke Probolinggo bawa joran pancing. Itu dedikasi level dewa atau mungkin sekadar alasan biar bisa kabur sebentar dari hiruk-pikuk kota kembang.

Lokasi pertempuran joran ini ada di Jalan Gajah Mada Lingkar Utara, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Selama 5 jam penuh, dari pukul 10.00 hingga 15.00 WIB, para peserta diuji kesabarannya. Antara strike (dapat ikan) atau boncos (zonk), bedanya tipis setipis senar pancing.

Siasat Pemkot: Lahan Nganggur Jadi Cuan (PAD)

Acara ini dibuka Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin. Sebagai simbolis, Pak Wali tidak menggunting pita, tapi melepas ikan bandeng seberat 3 kilogram ke kolam. Plung! Ikan masuk, harapan peserta melambung.

Dalam sambutannya, dr. Aminuddin blak-blakan. Lomba ini bukan sekadar hura-hura, tapi taktik cerdas pemerintah kota. “Ini upaya memanfaatkan lahan yang ada agar lebih produktif. Ternyata peminat mancing sangat banyak,” ujarnya.

Daripada kolam tambak milik pemerintah itu cuma jadi sarang nyamuk, atau tempat galau anak senja, mending disulap jadi arena lomba. Hasilnya? Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Kalau ini rutin dilaksanakan, misalnya dua minggu sekali, potensinya cukup besar. Ke depan tentu perlu pengelolaan yang lebih baik agar bisa berkelanjutan,” tambah Pak Wali.

Singkatnya: Rakyat senang dapat hiburan, Pemkot senang dapat pemasukan. Win-win solution, bukan?

Rahasia “Gacor” Pak Ciptadi: Umpan Otok-Otok Campur Telur

Nah, bicara soal pemenang, mari kenalan dengan Ciptadi Jwantoko (52). Peserta lomba asal Jatiroto, Kabupaten Lumajang ini sukses bikin iri peserta lain. Tepat pukul 11.14 WIB, jorannya melengkung tajam. Hasilnya? Ikan bandeng maskot seberat 3 kilogram (nomor maskot 8) berhasil didaratkan.

Apa motivasinya jauh-jauh dari Lumajang? “Motivasinya untuk refresh, biar nanti mulai kerja lagi bulan Januari bisa on the track,” kata Ciptadi.

Ternyata, Pak Ciptadi ini baru selesai masa giling di tempat kerjanya. Jadi, mancing adalah cara dia “mencuci otak” sebelum kembali jadi budak korporat, yang pabriknya bekas Belanda tersbut di bulan Januari.

Tapi tunggu dulu, apa rahasianya? Ciptadi yang biasa mancing liar di Sungai Bondoyudo, Lumajang ini membocorkan resep dapur umpan racikannya. Dia pakai Otok-otok (konsentrat pakan ikan) yang dioplos dengan telur dan pelet.

Catat, Lur! Otok-otok campur telur. Siapa tahu besok Anda yang bawa pulang hadiahnya.

Modal 250 Ribu, Pulang Bawa 7 Juta?

Ini bagian yang paling bikin mata hijau. Biaya pendaftaran lomba ini Rp250.000 per lapak. Mahal? Relatif.

Coba lihat hadiahnya. Total hadiah Rp15 juta, dibagi dalam.

Juara I: Rp7 juta (Bisa buat DP motor atau beli beras setahun).

Juara II: Rp3 juta.

Juara III: Rp2 juta.

Dan seterusnya sampai juara X.

Di kolam ini, ikan terberat yang tercatat mencapai 8 kilogram. Bayangkan sensasi narik ikan segede balita, pasti pegal tapi nikmat.

Meski begitu, Pak Ciptadi punya satu sambat (keluhan) kecil mewakili suara rakyat. “Kalau bisa rutin, mungkin tiket dan hadiahnya bisa disesuaikan supaya lebih merakyat,” harapnya.

Yah, namanya juga rakyat, maunya hadiah Mercy tapi tiket harga seblak. Tapi aspirasi ini patut didengar Pemkot Probolinggo. Kalau tiketnya lebih murah, mungkin kolam DKPPP bakal lebih ramai dari pasar malam.

Acara yang juga dihadiri Pj Sekda Rey Suwigtyo dan para pejabat teras lainnya ini membuktikan satu hal: Di tengah tekanan hidup yang makin berat, melihat pelampung pancing bergoyang adalah kebahagiaan yang hakiki.

Info Singkat Lomba:

Lokasi: Tambak DKPPP, Jl. Gajah Mada Lingkar Utara, Probolinggo.

Waktu: 08.00 – 15.00 WIB.

Tiket: Rp250.000 (dapat berubah sesuai kebijakan panitia).

Tips: Bawa payung, bawa bekal, dan jangan lupa racikan umpan “maut”.

Tertarik ikut lomba mancing berikutnya di Probolinggo? Pantau terus media sosial komunitas mancing setempat, jangan sampai ketinggalan info!***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *